Tuesday, December 15, 2009

dipisah dan terpisah

Ini ceritera suatu petang saat bercandaan dan malamnya yang sangat kuingati – tentang mereka di LCCT.

Entah bagaimana, mereka berkenalan sekejap namun cepat akrabnya. Pernah, dan acap kali jua terdengar pesan-pesan orang tua-tua, “yang cepat datangnya, pergi pun cepat jua”.

Namun ini bukan suatu perasaan istimewa, mereka tidak bercinta. Tidak! Cuma terkadang, sayang dan cinta itu dipisahkan suatu garisan tipis yang amat halus. Mungkin.

Mereka berkenalan, cepat mesranya, dan bagaikan teman-teman lainnya yang sebebas burung berkicauan, mereka bergelak pada hari-hari yang berlalu, menangis dan tersenyum untuk jatuh bangun dalam hidup. Mereka akrab, antara teman terbaik pernah kulihat.

Tapi dalam hidup, untuk bahagia, banyak yang harus ditinggalkan, dan dia terpaksa memilih untuk meninggalkan temannya, temannya itu yang pernah menemani harinya.

Syukur temannya penuh mengerti bahawa dalam hati sebaiknya hanya ada satu, dan dengan penuh pengertian itulah, temannya mengukir senyum tawar, merelakannya pergi pada suatu kebahagiaan yang digapainya.

Dari suatu sudut, aku melihat mereka rancak berkata-kata dan tergelak, penuh kemesraan dalam persahabatan.

Dan kemudiannya, saat mereka harus berpisah, dia dan temannya beriringan ke kaunter masuk, dan sesuatu yang mencengangkan temannya berlaku. Ya, betul-betul berlaku di hadapan mataku.

Dia mendesak temannya pulang dan meninggalkannya di situ, lantas memberinya ruang untuk terus ke kaunter masuk seorang diri, namun temannya menolak. Mendesak dan didesak, dia berkata, “jika kau kuhantar pulang, bermaksud aku yang meninggalkanmu, tapi jika kau menghantarku dan melihat kupergi, itu kau yang meninggalkan aku”.

Temannya menolak, dan dia terpaksa mengalah. Dia melangkah lesu, diikuti pandangan mata temannya dan lambaian tangan. Seusai di kaunter masuk, dia memandang dari kejauhan dan melambai tuk kesekian kalinya, ke arah temannya. Sebak.

Aku yang melihat, menggumam bersuara, “lantas kenapa sebegitu kau perlakukan temanmu? Dalam lemah dia melihatku, “kerana aku khuatir akan perasaanku padanya, adakah seorang abang, teman, atau seseorang yang lain…”

Dari jiwaku yang memandang penuh penyaksian, kumengerti bahawa hati itu cuma satu, dan kebahagiaan itu diraih dengan memijak-mijak tanah yang terkorban.

Dan temanmu menitipkan pesan padaku, yang hari ini kusampaikan pesan temanmu itu, “jaga dirimu baik-baik, aku tetap di sini saat kau perlukan, semoga ALLAH merahmati dan menjagamu, teman baikku…”

Aku berpaling dan pulang, pada lambaian mereka yang terakhir.

pravs-j-feel-every-moment

LCCT, 13 Disember 2009, 8.15 malam.